Minggu, 03 Mei 2015

IBNU AL HAITHAM Pakar Fisika Optik yang Jenius

            Sejarah mencatat salahsatu peletak dasar ilmu fisika optik adalah sarjana Islam Ibnu-al-Haitham atau yang dikenal dibarat dengan sebutan Alhazen, Avennathan atau Avenetan. Ilmuwan besar yang punya nama lengkap Abu Ali al-Hasan Ibnu al Haitham al-Basri al-Misri ini lahir di Basrah, Irak pada 965 M. Mengecap pendidikan di Basrah dan Baghdad, penguasaan matematikanya oleh Maz Mayerhof, seorang sejarawan dianggap mengungguli Eucildes dan Ptolemeous.
            Setelah selesai di kedua kota itu, Ibnu Haitham meneruskan pendidikannya di Mesir dan bekerja dibawah pemerintahan Khalifah al-Hakim (996-1020 M) dari Daulah Fatimiyah. Ia pun mengunjungi Spanyol untuk melengkapi beberapa karya ilmiahnya. Seperti sarjana Islam lainnya, Ibnu Haitham atau Alhazen tidak hanya mengiasai fisika, ilmu optik, namun juga filsafat, matematika, dan obat-obatan atau farmakologi. Tidak kurang dari 200 karya ilmiah mengenai berbagai bidang itu dihasilkan Ibnu Haitham sepanjang hidupnya.
            Karya utamanya tentang optik, yang mana naskah aslinya dalam bahasa Arab telah hilang, namun terjemahannya dalam bahasa latin masih ditemukan. Ibnu Haitham mengoraksi konsep Ptomeus dan Euclides tentang penglihatan. Menurut kedua ilmuwan Yunani itu dijelaskan bahwa mata mengirimkanberkas-berkas cahaya visual ke objek penghilatan sehingga sebuah benda dapat terlihat. Sebaliknya, menurut Ibnu Haitham, retinalah pusat penglihatan dan benda bisa terlihat karena memantulkan cahaya pada retina dibawa ke otak melalui saraf-saraf optik.
            Kepandaian matematis dari Ibnu Haitham terbukti ketika ia dengan sangat akurat menghitung ketinggian atmosfer bunmi yaitu 58,5 mil. Dalam karyanya Mizanul Hikmah, Ibnu Haitham banyak mengurai tentang masalah atmosfer ini, terutama berkaitan hubungan ketinggian atmosfer dengan meningkatnya kepadatan udara. Secara eksperimental, ia berhasil menguji berat benda meningkat dalam proporsinya pada kepadatan atmosfer yang bertambah.
            Ia juga membicarakan masalah yang berhubungan dengan pusat daya tarik bumi. Jauh sebelum Newtonmembahas masalah gravitasi, Ibnu Haitham telah membahasnya dan menjadikan pengetahuan tentang gravitasi itu untuk penyelidikan tentang keseimbangan dan alat-alat timbangan. Dalam kaitan itu pula, beliau mengurai dengan jelas hubungan antara daya tarik bumi dengan pusat suspensi. Penjelasannya mengenai hubungan antara kecepatan, ruang dan saat jatuhnya benda-benda diyakini menjadi ilham bagi Newton untuk mengembangkan teori gravitasi.
            Selain masalah cahaya dan atmosfer, Ibnu Haitham juga banyak melakukan eksperimen mengenai camera obscura atau metode kamar gelap, gerak rektilinear cahaya, sifat bayangan, penggunaan lensa, dan beberapa fenomena optikal lainnya. Metode kamar gelap atau camera obscura dilakukan beliau saat gerhana bulan terjadi. Ketika itu beliau mengintip citra matahari yang setengah bulat pada sebuah dinding yang berhadapan dengan sebuah lubang kecil yang dibuat pada tirai penutup jendela.
            Untuk semua eksperimen lensa, Ibnu Haitham membuat sendiri lensa dan cermin cekung melalui mesin bubut yang dimilikinya. Eksperimennya yang tergolong berhasil saat beliau menemukan titik fokus sebagai tempat pembakaran terbaik. Saat itu, beliau berhasil mengawinkan cermin-cermin bulat dan parabola. Semua sinar yang masuk dikonsentrasikan pada sebuah titik fokus sehingga menjadi titik bakar.
            Buku beliau tentang optik, Kitab al-Manazir diterjemahkan kedalam bahasa Latin oleh F. Risner dan diterbitkan di Basle pada 1572 M. Karyanya ini bersama karya-karya optik lainnya sangat mempengaruhi ilmuwan abad pertengahan seperti Roger Bacon, Johannes Keppler, dan Pol Witello. Diyakini, banyak karya-karya monumental dari mereka diilhami dari hasil eksperimen yang dilakukan Alhazer atau Ibnu Haitham.
            Menurut Philip K. Hitti, tulisan-tulisannya mengenai berbagai persoalan optik membuka jalan bagi para peneliti optik Barat di kemudian hari mengembangkan disiplin ilmu ini secara lebih luas. Semua kerya-karya itu diterjemahkan kedalam bahasa Eropa, termasuk Rusia dan Ibrani. Sejarawan terkemuka Amerika, George Sarton mengumpulkan karya-karya Ibnu Haitham dalam bukunya Introduction to Study of Science yang menajdi bacaan wajib bagi mereka yang mencintai ilmu. (R. A. Gunadi, 2002)
            Penemuan Ibnu Haitham di bidang teknologi khususnya dalam bidang optik ini mengingatkan masyarakat muslim sekarang bahwa orang muslim sejatinya adalah orang-orang yang sangan pintar. Tapi kenapa pada saat ini orang muslim seakan tertinggal dari orang non muslim, padahal yang menemukan alat-alat atau teori-teori yang sekarang dipakai pedoman bagi orang-orang non muslim sendi dulunya adalah teori orang-orang muslim, sperti Ibnu Haitham yang sedang dibahas sekarang ini.
            Karena penemuan ini, nama Ibnu Haitham diletakkan di Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Sultan Agung Semarang (Unissula). Salah satu alasannya karena Ibnu Haitham adalah orang muslim yang sangat memberi kontribusi terhadapa dunia teknologi. Terlebih karena Unissula sendiri sedang merintis untuk menjadi kampus peradaban dan The First Islamic Cyber University, sehingga setiap gedung yang berada di Unissula diberikan nama cendekiawan muslim pada masa dahulu yang tentunya memberikan kontribusi bagi kemajuan ummat.

Sumber : R. A. Gunadi, M. S. (2002). Dari Penakluk Jerussalem Hingga Angka Nol. Jakarta: Republika.

Biografi Al-Biruni


Abu rayhan Muhammed Ibnu Ahmad Al-Biruni terlahir menjelang terbit fajar pada 4 september 973 M di Kath (Kiva sekarang). Sebuah kota di sekitar wilayah aliran sungai Oxus, Khwarizm (Uzbekistan). Masa kecilnya tidak banyak diketahui. Al-biruni dalam biografinya mengaku sama sekali tidak mengenal ayahnya dan hanya sedikit mengenal kakeknya.

Selain menguasai beragam ilmu pengetahuan, Al-biruni juga fasih dengan sederet bahasa seperti Arab, Turki, Persia, Sansekerta, Yahudi dan Suriah. Semasa muda dia menimba ilmu matematika dan astronomi dari Abu Nasir Mansur.

Menginjak usia 20 tahun, Al-Biruni telah menulis beberapa karya dibidang sains. Dia juga kerap bertukar pikiran dan pengalaman dengan Ibnu Sina, Imuwan besar Muslim lainnya yang begitu berpengaruh di Eropa.

Al-Biruni tumbuh dewasa dalam situasi politik yang kurang menentu. Ketika berusia 20 tahun, Dinasti Khwarizmi digullingkan oleh Emir Ma’mun Ibnu Muhammad dari Gurgan. Saat itu, Al-Biruni meminta perlindungan dan mengungsi di Istana Sultan Nuh Ibnu Mansur.

Pada 998 M, Sultan dan Al-Biruni pergi ke Gurgan di Laut Kaspia. Dia tinggal di wilayah itu selama beberapa tahun. Selama tinggal di gurgan, Al-Biruni menyeleseikan salah satu karyanya The Chronology of Ancient Nations. Sekira 11 tahun kemudian, dia kembali ke Khwarizmi.

Sekembalinya dari Gurgan, Al-Biruni menduduki jabatan terhormat sebagai pensihat sekaligus pejabat istana bagi pengganti Emir Ma’mun. pada 1017, situasi politik kembali bergolak menyusul kematian anak kedu Emir Ma’mun akibat pemberontakan. Khwarizmi pun diinvasi oleh Mahmud Ghazna pada 1017. Mahmud lalu membawa para pejabat istana Khwarizmi untuk memperkuat kerajaanya yang bermarkas di Ghazna, afganistan. Al-Biruni adalah seorang Ilmuwan dan pejabat istana yang ikut diboyong. Selain itu, ilmuwan lainnya yang dibawa Mahmud ke Ghazna adalah matematikus, Ibnu Iraq, dan seorang dikter, Ibnu Khammar.

Untuk meningkatkan prestise istana yang dipimpinnya, Mahmud sengaja menarik para sarjana dan ilmuwan ke istana Ghazna. Mahmud pun melakukan beragam cara untuk mendatangkan para ilmuwan ke wilayah kekuasaanya. Ibnu Sina sempat menerima undangan bernada ancaman dari Mahmud agar dating dan mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya di istana Ghazna.

Meski Mahmud terkesan memaksa. Al-Biruni menikmati keberadaanya di Ghazna, Di Istana, dia dihormati dan dengan leluasa dapat mengembangkan pengetahuan yang dikuasainya. Salah satu tugas Al-Biruni adalah menjadi astrolog istana bagi Mahmud dan penggantinya.

Pada 1017 hingga 1030, Al-Biruni berkesempatan melancong ke India. Selama 13 tahun, dia mengkaji seluk-beluk India hingga melahirkan apa yang disebut Indologi atau studi tentang India. Di negeri Hindustan itu dia mengumpulkan beragam bahan bagi penelitian monumental yang dilakukannya. Dia mengorek dan menghimpun sejarah, kebiasaan, keyakinan atau kepercayaan yang dianut masyarakat di subbenua India.

Selama hidupnya, Al-Biruni menghasilkan karya besar dalam bidang Astronomi lewat Masudic Canon yang didedikasikan kepada putra Mahmud, yaitu Ma’sud. Atas karyanya itu, Ma’sud menghadiahkan seekor gajah bermuatan penuh dengan perak. Namun, Al-Biruni mengembalikan hadiah yang ditermanya itu ke kas Negara. Sebagai bentuk penghargaan, Ma’sud juga menjamin Al-Biruni dengan uang pension yang dapat membuatnya tenang beristirahat serta terus mengembangkan ilmu pengetahuan.

Al-Biruni lalu menulis buku astrologi, yaitu The Elements of Astrology. Selain itu, sang ilmuwan itupun menulis sederet karya dalam kedokteran, geografi, serta fisika.

Al-Biruni telah menulis risalah tentang astrolabe serta memformulasikan table Astronomi untuk Sultan Ma’sud, “Papar Will Durant tentang kontribusi Al-Biruni dalam bidang Astronomi. Selain itu, Al-Biruni juga berjasa menuliskan risalah tentangplanisphere dan armillary sphere. Dia bahkan mengatakan bahwa bentuk bumi adalah bulat.

Al-Biruni tercatat sebgai astronom yang melakukan percobaan yang berhubungan dengan fenomena astronomi. Dia menduga galaksi bima sakti adalah kumpulan sejumlah bingtang. Pada 1031 dia merampungkan ensiklopedia astronomi yang sangat panjang, Al-Qanun Al Mas’udi.

Selain itu, Al-Biruni merupakan ilmuwan yang pertama kali
membedakan istilah astronomi dengan satrologi. Hal itu dilakukannya pada abad ke-11 M. dia juga menghasilkan berbagai karya penting dalam bidang astrologi.

Dalam ilmu bumi, Al-Biruni menghasilkan sejumlah sumbangan penting sehingga dia dinobatkan sebagai “Bapak Geodesi”. Dia juga memberi kontribusi signifikan katografi, geologi,geografi dan mineralogy. Kartografi adalah ilmu membuat peta atau globe. Pada usia 22 tahun, Al-Biruni telah menulis karya penting dalam kartografi, yakni sebuah setudi tentang proyeksi pembuatan peta.

Pada usia 17 tahun, Al-Biruni sudah mampu menghitung garis lintang Kath Khwarizmi dengan menggunakan ketinggian matahari. “kontribusi penting dalam bidang geodesi dan geografi telah disumbangkan Al-Biruni. Dia telah memeperkenalkan teknik mengukur bumi dan jaraknya menggunakan triangulasi,” papar John J. O’Connor dan Edmund F. Robertson dalamMacTutor History of Mathematics.
Al-Biruni juga telah menghasilkan karya dalam bidang geologi. Salah satunya dia menulis tentang geologi India. Sementara itu dalam bidang mineralogy dia menulis kitab berjudul Al_Jawahir atau Book of Precious Stones yang menjelaskan beragam mineral. Dia mengklasifikasikan setiap mineral berdasarkan warna, bau, kekerasan, kepadatan, serta beratnya.

Al-Biruni telah berperan mengenalkan metode saintifik dalam setiap bidang yang dipelajarinya. Misalnya, dalam Al-Jamawiryang sangat eksperimental. Pada bidang optic, Al-Biruni bersama Ibnu Al-Haitham termasuk ilmuwan pertama yang mengkaji dan mempelajari ilmu optic. Dialah yang pertama kali menemukan bahwa kecepatan cahaya lebih cepat dari kecepatan suara.

Dalam ilmu social, Al-Biruni didapuk sebagai antropolog pertama didunia. Dia menulis secara detail studi kompertaif terkait antropologi manusia, agama, dan budaya di Timur Tengah, Mediterania, dan Asia Selatan. Dia dipuji sejumlah ilmuwan karena telah mengembangkan antropologi Islam. Dia juga mengembangkan metodelogi yang canggih dalam studi antropologi.

Al-Biruni tercatat sebagai pelopor eksperimental lewat penemuan konsep reaksi waktu. Pad usia 27 tahun, dia telah menulis buku sejarah yang berjudul Chronology. sayangnya buku ini telah hilang. Dalam kitab yang ditulisnya, Fi Tahqiq ma Li’I-Hid atau penelitian tentang India, dia membedakan metode saintifik dengan metode histories. Dia juga memberikan sumbangan yang signifikan bagi pengembangan matematika, khusunya dalam bidang teori dan praktik aritmatika, bilangan irasional, teori rasio, geometri, dan lainnya.

“Dia salah satu ilmuwan terbesar dalam sejarah manusia”. Begitulah Al-Sabra menjuluki Al-Biruni, ilmuwan muslim serba bisa dari abad ke 10M. bapak sejarah Sains Barat, George Sarton pun mengagumi kiprah dan pencapaian Al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. ‘Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adlaah seoarang Ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman”, cetus Sarton.

Bukan tanpa alas an jika Sarton dan Serba mendapuknya sebagai ilmuwan yang agung. Sejatinya, Al-Biruni memang seorang saintis yang fenimenal. Sejarah mencatat Al-Biruni sebgaia sarjana muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari seluk-beluk India dan tradisi Brahminical. Kerja kerasnya ini menobatkannya sebagai “Bapak Idiologi”.

Di era keemasan Islam, Al-Biruni telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuwan tertua yang berhubungan dengan fifik bumi. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, Al-Biruni jugan menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains. Sejrah sains mencatat, ilmuwan yang hidup diera kekuasaan dinasti Samanid itu merupakan salah satu pelopor metode saintifik eksperimental. Dialah ilmuwan yang bertanggunag jawab memperkenalkan metode eksperimental dalam ilmu mekanik. Al-Biruni juga tercatat sebgaia seorang perintis psikologi eksperimental.

Al-Biruni merupakan saintis pertama yang menelaborasi eksperimaen yang berhubungan dengan fenomena astronomi sumbangan yang dicurahkanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan sungguh tidak ternilai. Al-Biruni pun tidak hanya menguasai beragam ilmu seperti fisika, Antropologi, psikologi, kima, astrologi, sejarah, geografis, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran dan filsafat, tetapi juga turut memberikan kontribusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya dengan menjadi seorang guru yang sangat dikagumi para muridnya.

Al-Biruni wafat di usai 75 tahun pad 13 Desember 1048 di Ghazna. Untuk mengenang jasanya, pada astronom mengabadikan nama Al-Biruni di kawah bulan.

Sejarah Al-Kindi


Al-Kindi
Abu Yūsuf Yaʻqūb ibn ʼIsḥāq aṣ-Ṣabbāḥ al-Kindī (Arab: أبو يوسف يعقوب بن إسحاق الصبّاح الكندي, Latin: Alkindus) (lahir: 801 - wafat: 873), dikenal sebagai filsuf pertama yang lahir dari kalangan Islam. Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia mahir berbahasa Yunani. Banyak karya-karya para filsufYunani diterjemahkannya dalam bahasa Arab; antara lain karya Aristoteles dan Plotinos. Sayangnya ada sebuah karya Plotinus yang diterjemahkannya sebagai karangan Aristoteles yang berjudul Teologi menurut Aristoteles, yang di kemudian hari menimbulkan sedikit kebingungan.
Ia adalah filsuf berbangsa Arab dan dipandang sebagai filsuf Muslim pertama. Secara etnis, al-Kindi lahir dari keluarga berdarah Arab yang berasal dari suku Kindah, salah satu suku besar daerah Jazirah Arab Selatan. Salah satu kelebihan al-Kindi adalah menghadirkan filsafat Yunani kepada kaum Muslimin setelah terlebih dahulu mengislamkan pikiran-pikiran asing tersebut.
Al Kindi telah menulis banyak karya dalam pelbagai disiplin ilmu, dari metafisikaetikalogika dan psikologi, hingga ilmu pengobatan, farmakologimatematikaastrologi dan optik, juga meliputi topik praktis seperti parfumpedangzoologikacameteorologi dan gempa bumi.
Di antaranya ia sangat menghargai matematika. Hal ini disebabkan karena matematika, bagi al-Kindi, adalah mukaddimah bagi siapa saja yang ingin mempelajari filsafat. Mukaddimah ini begitu penting sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk mencapai keahlian dalam filsafat tanpa terlebih dulu menguasai matematika. Matematika di sini meliputi ilmu tentang bilanganharmonigeometri dan astronomi.
Yang paling utama dari seluruh cakupan matematika di sini adalah ilmu bilangan atau aritmatika karena jika bilangan tidak ada, maka tidak akan ada sesuatu apapun.
Al-Kindi membagi daya jiwa menjadi tiga: daya bernafsu (appetitive), daya pemarah (irascible), dan daya berpikir (cognitive atau rational). Sebagaimana Plato, ia membandingkan ketiga kekuatan jiwa ini dengan mengibaratkan daya berpikir sebagai sais kereta dan dua kekuatan lainnya (pemarah dan nafsu) sebagai dua ekor kuda yang menarik kereta tersebut. Jika akal budi dapat berkembang dengan baik, maka dua daya jiwa lainnya dapat dikendalikan dengan baik pula. Orang yang hidupnya dikendalikan oleh dorongan-dorongan nafsu birahi dan amarah diibaratkan al-Kindi seperti anjing dan babi, sedang bagi mereka yang menjadikan akal budi sebagai tuannya, mereka diibaratkan sebagai raja.
Menurut al-Kindi, fungsi filsafat sesungguhnya bukan untuk menggugat kebenaran wahyu atau untuk menuntut keunggulan yang lancang atau menuntut persamaan dengan wahyu. Filsafat haruslah sama sekali tidak mengajukan tuntutan sebagai jalan tertinggi menuju kebenaran dan mau merendahkan dirinya sebagai penunjang bagi wahyu.
Ia mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang segala sesuatu sejauh jangkauan pengetahuan manusia. Karena itu, al-Kindi dengan tegas mengatakan bahwa filsafat memiliki keterbatasan dan bahwa ia tidak dapat mengatasi problem semisal mukjizatsurganeraka, dan kehidupan akhirat. Dalam semangat ini pula, al-Kindi mempertahankan penciptaan dunia ex nihilio, kebangkitan jasmani, mukjizat, keabsahan wahyu, dan kelahiran dan kehancuran dunia oleh Tuhan.
Al-Kindi mengumpulkan berbagai karya filsafat secara ensiklopedis, yang kemudian diselesaikan oleh Ibnu Sina (Avicenna) seabad kemudian. Ia juga tokoh pertama yang berhadapan dengan berbagai aksi kejam dan penyiksaan yang dilancarkan oleh para bangsawan religius-ortodoks terhadap berbagai pemikiran yang dianggap bid'ah, dan dalam keadaan yang sedemikian tragis (terhadap para pemikir besar Islam), al Kindi dapat membebaskan diri dari upaya kejam para bangsawan religius-ortodoks itu.

  • ) Sekilas sejarah pemikiran filsuf di atas dinukil dari Wikipedia Ensiklopedia Bebas (Bahasa 'Inggris) dan bukunya Zainul Hamdi, "Tujuh Filsuf Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Modern", LKiS, Jogja

Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Siapakah Penemu Mikroskop?

Ditulis oleh Ahmad Nashiruddin pada 30 September 2013

Mikroskop (Sumber: Wikimedia Commons, Lisensi: CC BY-SA 3.0)
Mikroskop
(Sumber: Wikimedia Commons, Lisensi: CC BY-SA 3.0)
Selama ribuan tahun, objek paling kecil yang dapat dilihat manusia adalah selebar rambut manusia. Ketika sebuah alat yang bernama mikroskop ditemukan pada tahun 1590, seketika itu juga manusia dapat melihat sebuah dunia baru di mana makhluk yang sangat kecil hidup, mungkin itu di air yang biasa diminum, di dalam makanan, dan di berbagai tempat lainnya.
Akan tetapi, siapa yang menemukan mikroskop tersebut tidak jelas. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa yang menemukan adalah Hans Lippershey, orang yang dikenal mengajukan paten pertama kali untuk teleskop. Namun, bukti lain mengarah kepada Hans dan Zacharias Jansen, tim yang beranggotakan ayah dan anak pembuat kacamata yang tinggal di kota yang sama denga Lippershey.

Jansen atau Lippershey?

Zacharias-Lippershey_smallHans Lippershey, juga dieja Lipperhey, lahir di Wesel, Jerman pada tahun 1570, tapi ia pindah ke Belanda, yang kemudian menikmati suatu periode inovasi seni dan ilmu pengetahuan yang disebut sebagai Masa Keemasan Belanda. Lippershey menetap di Middleburg, di mana ia membuat kacamata, teropong, beberapa mikroskop paling awal, dan teleskopHans dan Zacharias Jansen juga tinggal di Middleburg seperti halnya Lippershey. Para sejarawan menghubungkan penemuan mikroskop kepada keluarga Jansen, berkat surat yang ditulis oleh diplomat Belanda, William Boreel.
Pada tahun 1650-an, Boreel menulis surat kepada seorang dokter raja Perancis. Dalam suratnya, Boreel mengatakan bahwa Zacharias Jansen menulis surat kepadanya tentang mikroskop pada 1590-an, meskipun Boreel melihat mikroskop itu dengan mata kepalanya sendiri beberapa tahun kemudian. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Hans Jansen juga membantu dalam pembuatan mikroskop itu dan Zacharias pada waktu itu adalah seorang remaja.
Keterangan Gambar: Zacharias Jansen (atas) dan Hans Lippershey (bawah). Gambar diambil dari Wikimedia Commons dan berada dalam domain publik.

Mikroskop di Awal Penemuan

Mikroskop pertama yang dibuat Jansen adalah mikroskop majemuk yang menggunakan sedikitnya dua lensa. Lensa objektif diposisikan dekat dengan objek dan menghasilkan gambar yang diambil dan diperbesar lebih lanjut oleh lensa kedua, yang disebut lensa mata atau lensa okuler.
Mikroskop pertama kali (Sumber: Wikimedia Commons, gambar ini tersedia dalam domain publik)
Mikroskop pertama kali
(Sumber: Wikimedia Commons, gambar ini tersedia dalam domain publik)
Sebuah museum di Middleburg memiliki salah satu mikroskop awal miliki Jansen, yang bertanggal 1595. Mikroskop itu berupa tiga tabung dengan lensa berbeda yang dapat digeser. Tanpa penopang dan mampu memperbesar tiga sampai sembilan kali dari ukuran sebenarnya.
Berita mengenai mikroskop ini segera menyebar dengan cepat ke seluruh Eropa. Sehingga, Galileo Galilei segera memperbaiki desain mikroskop majemuk tersebut pada tahun 1609. Galileo menyebut perangkatnya tersebut dengan “occhiolino“, atau mata yang kecil.
Robert Hooke, ilmuwan Inggris, juga meningkatkan kemampuan mikroskop sehingga mampu mengamati struktur kepingan salju, kutu, dan tanaman. Dia juga yang menciptakan sebuah istilah “sel” yang diambil dari bahasa Latin “cella” yang berarti ruangan kecil. Sebuah buku yang berjudul “Micrographia” menjelaskan secara rinci pengamatannya pada tahun 1665.
Mikroskop majemuk pada awalnya digunakan untuk memperbesar gambar lebih dari mikroskop lensa tunggal. Namun, pada tahun 1670-an, seorang ilmuwan asal Belanda Antoine van Leeuwenhoek merancang mikroskop lensa tunggal yang memiliki kekuatan tinggi. Mikroskop buatan Van Leeuwnhoek ini adalah mikroskop yang pertama kali digunakan untuk mengamati sperma (spermatozoa) dari anjing dan manusia. Mikroskop ini juga digunakan untuk mengamati sel darah merah, ragi, bakteri, dan protozoa. Mikroskop lensa tunggal Van Leeuwenhoek bisa memperbesar suatu objek hingga 270 kali lebih besar dari ukuran sebenarnya.
Berbagai penemuan pun segera bermunculan berkat adanya mikroskop. Pada tahun 1882, seorang dokter Jerman, Robert Koch, mempresentasikan penemuan Mycobacterium tuberculosis, basil yang bertanggung jawab terhadap penyakit tuberkulosis (TB). Koch juga menggunakan teknik pewarnaan untuk mengisolasi bakteri yang bertanggung jawab terhadap penyakit kolera.
Mikroskop terbaik telah mencapai batasnya pada awal abad ke-20. Mikroskop cahaya sudah tidak dapat mengamati objek yang lebih kecil dari panjang gelombang cahaya tampak. Tapi pada tahun 1931, ilmuwan Jerman Ernst Ruska dan Max Knoll mengatasi masalah tersebut dengan mikroskop elektron.

Evolusi Mikroskop

Mikroskop Elektron (Sumber: Wikimedia Commons, Lisensi: GFDL & CC BY-SA)
Mikroskop Elektron
(Sumber: Wikimedia Commons, Lisensi: GFDL & CC BY-SA)
Ernst Ruska lahir di Heidelberg, Jerman tahun 1906 dan merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ia belajar elektronika di Technical College, Munich dan melanjutkan studi tegangan tinggi dan teknologi vakum di Technical College of Berlin. Di sanalah Ruska dan pembimbingnya, Dr. Max Knoll pertama kali menciptakan “lensa” dari medan magnet dan arus listrik. Pada tahun 1933, pasangan tersebut membangun sebuah mikroskop elektron yang bisa melampaui batas pembesaran pada mikroskop optik pada saat itu.
Ernst memenangkan Penghargaan Nobel Fisika pada tahun 1986 untuk karyanya. Mikroskop elektron bisa mencapai resolusi yang lebih tinggi karena panjang gelombang elektron lebih kecil dari panjang gelombang cahaya tampak, terutama ketika elektron dipercepat dalam ruang hampa.
Kedua jenis mikroskop (cahaya dan elektron) tersebut menjadi sangat maju pada abad ke-20. Hingga hari ini, laboratorium menggunakan tag fluorescent atau filter terpolarisasi untuk mengamati spesimen, atau mereka juga menggunakan komputer untuk menangkap dan menganalisa gambar yang tidak terlihat oleh mata manusia. Saat ini terdapat berbagai jenis mikroskop seperti mikroskop refleksi, mikroskop fase kontras, mikroskop konfokal, dan mikroskop ultraviolet. Mikroskop modern bahkan bisa mengambil gambar atom tunggal


Sumber : http://sci.anashir.com/2013/09/30/224228/siapakah-penemu-mikroskop#ixzz3Z5Yzk4Mq

Sabtu, 02 Mei 2015

Pencahayaan

Pencahayaan merupakan salah satu faktor untuk mendapatkan keadaan lingkungan yang amandan nyaman dan berkaitan erat dengan produktivitas manusia. Pencahayaan yang baik memungkinkanorang dapat melihat objek-objek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat.Menurut sumbernya, pencahayaan dapat dibagi menjadi :
1. Pencahayaan alamiPencahayaan alami adalah sumber pencahayaan yang berasal dari sinar matahari. Sinar alamimempunyai banyak keuntungan, selain menghemat energi listrik juga dapat membunuh kuman. Untukmendapatkan pencahayaan alami pada suatu ruang diperlukan jendela-jendela yang besar ataupundinding kaca sekurang-kurangnya 1/6 daripada luas lantai.Sumber pencahayaan alami kadang dirasa kurang efektif dibanding dengan penggunaan pencahayaanbuatan, selain karena intensitas cahaya yang tidak tetap, sumber alami menghasilkan panas terutamasaat siang hari. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan agar penggunaan sinar alami mendapatkeuntungan, yaitu:- Variasi intensitas cahaya matahari- Distribusi dari terangnya cahaya- Efek dari lokasi, pemantulan cahaya, jarak antar bangunan- Letak geografis dan kegunaan bangunan gedung

2. Pencahayaan buatanPencahayaan buatan adalah pencahayaan yang dihasilkan oleh sumber cahaya selain cahaya alami.Pencahayaan buatan sangat diperlukan apabila posisi ruangan sulit dicapai oleh pencahayaan alami atausaat pencahayaan alami tidak mencukupi. Fungsi pokok pencahayaan buatan baik yang diterapkansecara tersendiri maupun yang dikombinasikan dengan pencahayaan alami adalah sebagai berikut:- Menciptakan lingkungan yang memungkinkan penghuni melihat secara detail serta terlaksananya tugasserta kegiatan visual secara mudah dan tepat- Memungkinkan penghuni berjalan dan bergerak secara mudah dan aman- Tidak menimbukan pertambahan suhu udara yang berlebihan pada tempat kerja- Memberikan pencahayaan dengan intensitas yang tetap menyebar secara merata, tidak berkedip, tidakmenyilaukan, dan tidak menimbulkan bayang-bayang.- Meningkatkan lingkungan visual yang nyaman dan meningkatkan prestasi.Sistem pencahayaan buatan yang sering dipergunakan secara umum dapat dibedakan atas 3 macamyakni :

Pada sistem ini 60-90% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas, sedangkan sisanyadiarahkan ke bagian bawah. Untuk hasil yang optimal disarankan langitlangit perlu diberikan perhatianserta dirawat dengan baik. Pada sistem ini masalah bayangan praktis tidak ada serta kesilauan dapatdikurangi.5. Sistem Pencahayaan Tidak Langsung (indirect lighting)Pada sistem ini 90-100% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas kemudiandipantulkan untuk menerangi seluruh ruangan. Agar seluruh langit-langit dapat menjadi sumber cahaya,perlu diberikan perhatian dan pemeliharaan yang baik. Keuntungan sistem ini adalah tidak menimbulkanbayangan dan kesilauan sedangkan kerugiannya mengurangi effisien cahaya total yang jatuh padapermukaan kerja.Penggunaan tiga cahaya utama adalah hal umum yang berlaku di dunia film dan photography. Padapresentasi arsitektural penggunaannya akan sedikit berbeda, walaupun masih dalam kerangkapemikiran yang sama. Agar pembaca lebih mudah memahami topik ini, saya menyertakan ilustrasi-ilustrasi gambar di bawah ini. Harap diingat bahwa topik ini tidak terkait dengan penggunaan softwareapapun, baik 3D Studio MAX, Lightwave, Maya, Softimage, ataupun software lainnya. Salah satu caramudah untuk melakukan pencahayaan adalah dengan membuat warna seragam pada seluruh materialpada 3D scenes. Teknik pecahayaan dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

1. Cahaya Utama (Key Light)Key Light merupakan pencahayaan utama dari gambar kita, dan merepresentasikan bagian paling terangsekaligus mendefiniskan bayangan pada gambar. Key Light juga merepresentasikan pencahayaan palingdominan seperti matahari dan lampu interior. Meski demikian peletakannya tidak harus persis tepatpada sumber pencahayaan yang kita inginkan. Key light juga merupakan cahaya yang paling terang danmenimbulkan bayangan yang paling gelap. Biasanya Key Light diletakkan pada sudut 450 dari arahkamera karena akan menciptakan efek gelap, terang serta menimbulkan bayangan.

2. Cahaya pengisi (Fill light)Fungsi fill light adalah melembutkan sekaligus mengisi bagian gelap yang diciptakan oleh key light. FillLight juga berfungsi menciptakan kesan tiga dimensi. Tanpa fill light ilustrasi kita akan berkesan muramdan misterius, seperti yang biasa kita lihat pada film X-Files dan film-film horor (disebut sebagai efekfilm-noir). Keberadaan fill light menghilangkan kesan seram tersebut, seraya memberi image tigadimensi pada gambar. Dengan demikian penciptaan bayangan (cast shadows) pada fill light padadasarnya tidak diperlukan. Rasio pencahayaan pada fill light adalah setengah dari key light. Meskipundemikian rasio pencahayaan tersebut bisa disesuaikan dengan tema ilustrasi. Tingkat terang Fill lighttidak boleh menyamai Key Light karena akan membuat ilustrasi kita berkesan datar. Pada dasarnya filllight diletakkan pada arah yang berlawanan dengan key light, karena memang berfungsi mengisi bagiangelap dari key light. Pada gambar di bawah key light diletakkan pada bagian kiri kamera dan fill lightpada bagian kanan. Fill light sebaiknya diletakkan lebih rendah dari key light.

3. Cahaya Latar (Back Light)Back Light berfungsi untuk menciptakan pemisahan antara objek utama dengan objek pendukung.Dengan diletakkan pada bagian belakang benda back light menciptakan "garis pemisah" antara objekutama dengan latar belakang pendukungnya. Pada ilustrasi di atas back light digunakan sebagaipengganti cahaya matahari untuk menciptakan "garis pemisah" pada bagian ranjang yang menjadi fokusutama dari desain. Karena cahaya matahari pada sore hari menjelang matahari terbenam bernuansa jingga, maka diberikan warna jingga pada back light tersebut. Selain itu back light juga menyebabkantimbulnya bayangan sehingga bagian cast-shadow pada program 3D sebaiknya diaktifkan.Pada dasar-dasar pencahayaan, selain tiga pencahayaan utama terdapat dua pencahayaan lain yangmendukung sebuah karya menjadi terlihat nyata yang disebut cahaya tambahan. Cahaya tambahanterdapat 2 macam yaitu :
1. Cahaya Aksentuasi (Kickers light)Kickers berfungsi untuk memberikan penekanan (aksentuasi) pada objek-objek tertentu. Lampu spotadalah yang terbaik digunakan karena mempunyai kemiripan dengan sifat lampu spot halogen yangbiasa dipergunakan sebagai elemen interior. Intensitas cahaya aksentuasi tidak boleh melebihi key lightkarena akan menciptakan "overexposure" sehingga hasil karya jadi terlihat seperti photo yang kelebihancahaya.
2. Cahaya Pantul (Bounce light)Setiap benda yang terkena cahaya pasti akan memantulkan kembali sebagian cahayanya. Misalnyacahaya matahari masuk melalui jendela dan menimbulkan "pendar" pada bagian tembok dan jendela.Warna pendaran cahaya tersebut juga harus disesuaikan dengan warna material yang memantulkancahaya. Semakin tingga kadar reflektifitas suatu benda, seperti kaca misalnya, semakin besarlah"pendar" cahaya yang ditimbulkannya.

POLARISASI POLARIMETER POLARIMETRI

POLARISASI

Polarisasi adalah peristiwa perubahan arah getar gelombang cahaya yang acak menjadi satu arah getar. Misalnya, sering radars mempertimbangkan polarisasi gelombang di pos pengolahan untuk meningkatkan pemeranan dari target. Dalam hal ini, polarimetry dapat digunakan untuk memperkirakan tekstur halus dari bahan, membantu menyelesaikan orientasi struktur kecil di sasaran, dan apabila circularly-polarized antena yang digunakan, jumlah tersebut bouncing dari sinyal yang diterima (yang chirality dari circularly polarized dengan gelombang alternates setiap refleksi). Dalam hubungan dengan Polarimeter cahaya, maka cahaya dinyatakan sebagai gelombang elektromagnetik tang transversal (tegak lurus dengan arah rambatnya). Cahaya umumnya mempunyai bermacammacam panjang gelombang, di mana bila dibiaskan melalui prisma kaca akan terurai menjadi beberapa warna cahaya yang dikenal sebagai spectrum. Itu tiap-tiap warna cahaya disebut sebagai cahaya monokromatik. Dalam alat Polarimeter ini cahaya monokromatik dihasilkan dengan menggunakan sodium lamp (lampu natrium) di mana gas natrium pijar akan menghasilkan lampu warna kuning.
Cahaya monokromatik pada dasarnya mempunyai bidang getar yang banyak sekali. Bila dikhayalkan maka bidang getar tersebut akan tegak lurus pada bidang datar. Bidang getar yang banyak sekali ini secara mekanik dapat dipisahkan menjadi dua bidang getar yang saling tegak lurus. Polarisasi dapat diakibatkan oleh pemantulan (Hukum Brewster)
tg ip = n2/n1
ip + r = 90º
ip = sudut polarisasi

Baik gelombang transversal maupun longitudinal menunjukkan gejala interferensi dan difraksi. Akan tetapi, efek polarisasi hanya dapat dialami oleh gelombang transversal saja. Polarisasi tidak terjadi pada gelombang longitudional seperti bunyi. Polarisasi dapat divisualisasi dengan membayangkan gelombang transversal pada seutas tali. Ada banyak gelombang dengan berbagai arah getar. Gelombang dengan berbagai arah getar seperti ini disebut gelombang tak terpolarisasi. Misalkan sekarang tali yang memiliki banyak arah getar (dalam hal ini disederhanakan menjadi 2 arah getar) melewati sebuah celah vertical (polarisator). Celah tersebut hanya melewatkan gelombang yang arah getanya vertical. Gelombang yang hanya memiliki satu arah getar seperti itu disebut gelomabang terpolarisasi. Jadi, polarisasi adalah terserapnya sebagaian arah getar gelombang sehingga gelombang hanya memiliki satu arah getar.
Peristiwa polarisasi tidak dapat diamati secara langsung oleh mata manusia, sehingga diperlukan suatu alat yang dapat membantu untuk menunjukan gejala polarisasi tersebut. Melalui polarimeter gejala polarisasi dapat ditunjukan, selain itu melalui alat ini dapat dilihat pula bagaimana larutan optic aktif seperti larutan gula dapat membelokan cahaya yang telah dipolarisasi.
Fakta bahwa cahaya mengalami polarisasi menunjukkan bahwa cahaya merupakan gelombang transversal. Cahaya dapat terpolarisasi karena peristiwa pemantulan, peristiwa pembiasan dan pemantulan, peristiwa bias kembar, peristiwa absorbsi selektif, dan peristiwa hamburan.
Ø  Polarisasi karena pemantulan

Bila sinar datang pada cermin datar dengan sudut datang 570, maka sinar pantul merupakan sinar terpolarisasi
Ø  Polarisasi karena pembiasan dan Pemantulan

Cahaya terpolarisasi dapat diperoleh dari pembiasan dan pemantulan. Hasil percobaan para ahli fisika menunjukkan bahwa cahaya pemantulan terpolarisasi sempurna jika sudut datang θ1 mengakibatkan sianr bias dengan sinar pantul saling tegak lurus. Sudut datang seperti itu disebut sudut polarisasi atau sudut Brewster.
Ø  Polarisasi karena pembiasan ganda (bias kembar)

Jika cahaya melalui kaca, maka cahaya lewat dengan kelajuan yang sama ke segala arah. Ini disebabkan kaca hanya memiliki satu indeks bias. Tetapi, bahan-bahan kristal tertentu seperti kalsitt dan kuarsa memiliki dua indeks bias sehingga kelajuan cahay tidak sama untuk segala arah. Jadi, cahaya yang melalui bahan ini akan mengalami pembiasan ganda.


POLARIMETER

Polarimeter atau spektropolarimeter adalah instrument yang digunakan untuk mendeteksi aktivitas optis. Polarimetri adalah suatu proses mendeteksi aktivitas optis. Zat aktif optis memutar cahaya terpolarisasi bidang, sedangkan zat yang inaktif optis tidak memutar cahaya terpolarisasi bidang.Beberapa contoh zat aktif optis adalah karbohidarat, protein dan steroid. Beberapa contoh zat inaktif optis adalah air, alcohol, larutan garam dalam air.
Polarimeter dalam kimia organik dapat digunakan untuk menentukan rotasi optik, konsentrasi, dan komposisi isomer optis dalam campuran rasemiknya.Polarimeter merupakan suatu alat yang tersusun atas polarisator dan analisator. Polarimeter adalah Polaroid yang dapat mempolarisasi cahaya, sedangkan anlisator adalah Polaroid yang dapat menganalisa/mempolarisasikan cahaya.
Prinsip kerja poilarimeter adalah meneruskan sinar yang mempunyai arah getar yang sama dengan arah polarisator. Sudut putar jenis bergantung pada konsentrasi dan jenis larutannya.
Polarimeter adalah dasar ilmiah alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran ini, walaupun ini istilah yang jarang digunakan untuk menjelaskan sebuah polarimetry proses yang dilakukan oleh komputer, seperti dilakukan di polarimetric sintetis kecepatan rana radar. Polarimetry film yang tipis dan permukaan yang umum dikenal sebagai ellipsometry.
Polarimeter dapat digunakan untuk mengukur berbagai sifat optis suatu material, termasuk bias-ganda linier, bias-ganda lingkar (juga mengenal sebagai putar optis atau dispersi putar berhubung dengan mata), dikroisme linier, dikroisme lingkar dan menyebar. Apabila cahaya melalui polarisator maka bidang getar polarisator akan diserap atau dipadamkan sehingga cahaya yang dapat melalui polarisator adalah cahaya yang mempunyai bidang getar Polarimeter. Sebaliknya cahaya yang melalui analisator maka bidang getar polarisator akan dipadamkan dan yang tinggal hanyalah cahaya yang mempunyai bidang getar analisator.

POLARIMETRI

Polarimetri adalah pengukuran dan interpretasi dari polarisasi dari garis gelombang, terutama electromagnetic gelombang, seperti gelombang radio atau cahaya. Polarimetri biasanya dilakukan pada gelombang electromagnetic yang telah melalui perjalanan atau telah tercermin, dibelokkan, atau diffraksi oleh beberapa bahan untuk menggambarkan objek tersebut. Polarimeter menjadi penafsiran dan pengukuran dari polarisasi gelombang transversal, khususnya gelombang elektromagnetis, seperti gelombang cahaya atau radio. secara khas Polarimeter dilaksanakan pada atas gelombang elektromagnetis yang sudah menempuh perjalanan melalui/sampai atau telah dicerminkan, membelokkan, atau diffracted oleh beberapa material dalam rangka menandai obyek itu. Beberapa arkais dan dalam beberapa saat ini digunakan yang paling sensitif polarimeter didasarkan pada interferometers, sedangkan lebih konvensional polarimeters adalah berdasarkan perjanjian yang polarising filter, gelombang piring atau perangkat lain. Suatu Polarimeter menjadi instrumen yang ilmiah yang basis dasar dulu membuat pengukuran ini, walaupun istilah ini jarang digunakan untuk menguraikan suatu proses Polarimeter yang dilakukan oleh suatu komputer, seperti dilakukan dalam lobang bidik kamera radar buatan polarimetric.
Untuk mengukur ini berbagai kekayaan di sana telah menjadi banyak perancangan Polarimeter. Beberapa kuno dan beberapa di dalam penggunaan sekarang. Yang paling sensitip Polarimeter didasarkan pada meter interferensi, sedang lebih konvensional Polarimeter didasarkan pada pengaturan polarising saringan, lempeng gelombang atau alat lain. Polarimetry dapat digunakan untuk mengukur berbagai properti optik dari bahan, termasuk linear birefringence, surat edaran birefringence (juga dikenal sebagai optik rotasi optik atau rotary pertebaran), linear dichroism, surat edaran dichroism dan penghamburan. Apabila diketahui besar sudut putar bidang polarisasi oleh larutan yang diperiksa maka kadar/konsentrasi zat optis aktif dalam larutan yang dipergunakan dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

P = Bt . C . L

Di mana :
P  = Besarnya sudut antara bidang polarisasi (hasil pengamatan )
Bt = Sudut putar spesifik zat optis aktif yang digunakan pada toC.
C  = Kadar/ konsentrasi zat optis aktif ( gram/cc)
L  = Panjang tabung pemeriksa
Catatan :
Bt diperoleh pada tabel (dengan standar temperatur 20oC )


JIka cahaya terpolarisasi bidang dilewatkan suatu larutan yang mengandung suatu enantiometer tunggal, maka bidang polarisasi cahaya itu diputar kekanan atau kekiri.Perputaran cahaya terpolarisasi bidang ini disebut rotasi optis. Suatu senyawa yang memutar bidang polarisasi suatu cahaya terpolarisasi bidang dikatakan bersifat aktif optis (optikally active). Larutan yang memutar bidang polarisasi cahaya kekanan disebut dekstrorotatori (Latin : dexter, ”kanan”), dan yang memutar bidang polarisasi cahaya kekiri disebut levorotatori (Latin : leaves, “kiri”). Arah perputaran ditandai oleh (+) untuk dekstrorotatori dan (-) untuk levorotatori. Jika sudut putar jenis (specific rotation) diketahui, maka konsentrasi larutan dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

C = 100α / (l x [α]t)

Keterangan :
C         = konsentrasi larutan (g/mL)
α          = nilai pengukuran (sudut pemutaran bidang polarisasi)
l           = panjang tabung polarimeter (dm)
[α]t      = sudut putar jenis (specific rotation)
t           = temperature
D         = cahaya monokromatis pada panjang gelombang sinar lampu D

Sudut putar jenis (specific rotation) ialah besarnya perputaran oleh 1,00 gram zat dalam 1,00 mL larutan yang berada dalam tabung dengan panjang jalan (cahaya) 1,00 dm pada temperature dan panjang gelombang tertentu. Panjang gelombang yang lazim digunakan adalah 589,3 nm (garis D natrium). Sudut putar jenis untuk suatu senyawa (misalnya pada 200 C) dapat dihitung dari sudut putar yang diamati, dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

[α]tD ] = α / l x C

Keterangan :
α          = sudut teramati pada 200 C
l           = panjang tabung (dm)
C         = konsentrasi larutan cuplikan (g/mL)



Cara Penggunaan Polarimeter
Cara penggunaan berikut adalah cara pada Zeiss Polarimeter, tetapi secara umum cara penggunaan polarimeter manapun adalah sama.
Untuk memulai penggunaan polarimeter pastikan tombol power pada posisi on dan biarkan selama 5-10 menit agar lampu natriumnya siap digunakan.
Selalu mulai dengan menentukan keadaan nol (zero point) dengan mengisi tabung sampel dengan pelarut saja. Keadaan nol ini perlu untuk mengkoreksi pembacaan atau pengamatan rotasi optik.
Tabung sampel harus dibersihkan sebelum digunakan agar larutan yang diisikan tidak terkontaminasi zat lain.
Pembacaan/pengamatan bergantung kepada tabung sampel yang berisi larutan/pelarut dengan penuh. Perhatikan saat menutup tabung sampel, harus dilakukan hati-hati agar di dalam tabung tidak terdapat gelembung udara.
Bila sebelum tabung diisi larutan didapat keadaan terang, maka setelah tabung diisi larutan putarlah analisator sampai didapat keadaan terang kembali. Sebaliknya bila awalnya keadaan gelap harus kembali kekeadaan gelap.
Catat besarnya rotasi optik yang dapat terbaca pada skala. Tetapi jangan hanya besar rotasi optiknya, arah rotasinya juga harus dicatat searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam.
 Lakukan pembacaan berkali-kali sampai diperoleh nilai yang dapat dirata-ratakan.

Beberapa hal yang harus diperhatikan pada penggunaan polarimeter, yaitu:
Larutan sampel harus jernih atau tidak mengandung partikel yang tersuspensi di dalamnya. Partikel tersebut akan menghamburkan cahaya yang melewati larutan.
Tidak terdapat gelembung udara pada tabung sampel saat diisi larutan.
Selalu dimulai dengan menentukan keadaan nol untuk mengkoreksi pembacaan.
Pembacaan rotasi optik dilakukan beberapa kali, sampai didapat data yang dapat dihitung rata-ratanya

Wow!! Ibnu Al-Haitham Ilmuwan Jenius Pakar Fisika Optik

Sejarah mencatat salah satu peletak dasar ilmu fisika optik adalah sarjana Islam Ibnu al-Haitham atau yang dikenal di Barat dengan sebutan Alhazen, Avennathan atau Avenetan. Ilmuwan besar yang punya nama lengkap Abu Ali al-Hasan ibnu al-Haitham al-Basri al-Misri tersebut lahir di Basrah, Irak pada tahun 965 M. Beliau mengecao pendidikan di Basrah dan Baghdad, penguasaan matematikanya oleh Max Mayerhof, seorang sejarawan dianggap mengungguli Euclides dan Ptolemeus.
Setelah selesai di kedua kota tersebut, Ibnu Haitham meneruskan pendidikannya di Mesir dan bekerja di bawah pemerintahan khalifah al-Hakim (996 – 1020 M) dari daulah Fathimiyah. Ia pun mengunjungi Spanyol untuk melengkapi beberapa karya ilmiahnya. Layaknya sarjana Islam lainnya, Ibnu Haitham atau Alhazen tidak hanya menguasai fisika, ilmu optik, namun juga filsafat, matematika dan obat – obatan atau farmakologi. Tidak kurang 200 karya ilmiah mengenai berbagai bidang itu dihasilkan Ibnun Haitham sepanjang hidupnya.
Karya utamanya tentang optik, naskah aslinya yang berbahasa Arab hilang, namun telah terjemahannya dalam bahasa latin masih ditemukan. Ibnu Haitham mengoreksi konsep Ptolemeus dan Euclides tentang penglihatanMenurut kedua ilmuwan Yunani tersebutmata mengirimkan berkas – berkas cahaya visual ke objek penglihatan sehingga sebuah benda dapat terlihatSebaliknya, menurut Ibnu Haitham, retinalah pusat penglihatan dan benda bisa terlihat karena memantulkan sinar atau cahaya ke mata. Kesan yang ditimbulkan cahaya pada retina dibawa ke otak melalui saraf – saraf optik.
Kepandaian matematis Ibnu Haitham terbukti ketika ia dengan sangat akurat menghitung ketinggian atmosfer bumi yaitu 58,5 mil. Dalam karyanya Mizanul Hikmah, Ibnu Haitham banyak mengurai tentang masalah atmosfer tersebut, terutama terkait dengan hubungan ketinggian atmosfer dengan meningkatnya kepadatan udara. Secara eksperimental, ia berhasil menguji berat benda meningkat dalam proporsinya pada kepadatan atmosfer yang bertambah.
Beliau juga membicarakan masalah yang berhubungan dengan pusat gaya tarik bumi. Jauh sebelum Isaac Newton membahas masalah gravitasi, Ibnu Haitham telah membahasnya dan menjadikan pengetahuan tentang gravitasi tersebut untuk menyelidiki tentang keseimbangan dan alat – alat timbangan. Dalam kaitan itu pula, Ibnu Haitham mengurai dengan jelas hubungan antara gaya tarik bumi dengan pusat suspensi. Penjelasannya mengenai hubungan antara kecepatan, ruang dan saat jatuhnya benda – benda diyakini menjadii ilham bagi Newton untuk mengembangkan teori gravitasi.
Selain masalah cahaya dan atmosfer, Ibnu Haitham juga banyak melakukan eksperimen mengenai camera obscura atau metode kamar gelap, gerak rektilinier cahaya, sifat bayangan, penggunaan lensa dan beberapa fenomena optikal lainnya. Metode kamar gelap atau camera obscura dilakukan Ibnu Haitham saat gerhana bulan terjadi. Kala itu, ia mengintip citra matahari yang setengah bulat pada sebuah dinding yang berhadapan dengan sebuah lubang kecil yang dibuat pada tirai penutup jendela.
Untuk semua eksperimen lensa, Ibnu Haitham membuat sendiri lensa dan cermin cekung dengan menggunakan mesin bubut yang dimilikinya. Eksperimennya yang tergolong berhasil saat ia menemukan titik fokus sebagai tempat pembakaran terbaik. Saat itu, ia berhasil “mengawinkan” cermin – cermin bulat dan parabola. Semua sinar yang masuk dikonsentrasikan pada sebuah titik fokus sehingga menjadi titik bakar.
Bukunya tentang optik, Kitab al-Manazir diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh F. Risner dan diterbitkan di Basle pada tahun 1572 M. Karyanya ini bersama karya – karya optik lainnya sangat mempengaruhi ilmuwan abad pertengahan seperti Roger Bacon, Johannes Keppler dan Pol Witello. Diyakini banyak karya – karya monumental dari mereka diilhami dari hasil eksperimen yang dilakukan Alhazen atau Ibnu Haitham.
Menurut Philip K. Hitti, tulisan – tulisannya mengenai berbagai persoalan optik membuka jalan bagi para peneliti optik Barat di kemudian hari mengembangkan disiplin ilmu ini secara lebih luas. Semua karya itu diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa Eropa, termasuk Rusia dan Ibrani. Sejarawan terkemuka Amerika, George Sarton mengumpulkan karya – karya Ibnu Haitham dalam bukunya Introduction to Study of Science yang menjadi bacaan wajib bagi mereka yang mencintai ilmu.
(Ahmad Fathonah)
Sumber :
Ditulis ulang dengan sedikit perubahan dari Buku Berjudul “Khazanah Orang Besar Islam – Dari Penakluk Jerussalem Hingga Angka Nol” terbitan Penerbit Republika, 2002.

Template by:

Free Blog Templates